Semua mata tertuju pada bola kuning kecil seukuran bola tenis itu, dengan penuh debar menantikan moment selanjutnya. Wajah-wajah pemain terlihat penuh siaga. Dan tak lama kemudian beberapa stik saling beradu, sekian detik kemudian... GOAL!
Sorak-sorai penonton supporter tim Hoki UNJ terdengar bergemuruh menyambut kemenangan itu. Para pemain berpelukan dengan mata berkaca-kaca. Kemenangan tim putra di partai final yang terakhir tersebut telah mengukuhkan posisi tim UNJ sebagai juara umum dalam Kejurnas Hoki tahun ini.
Bermain di kandang sendiri, UNJ benar-benar telah membuktikan skill dan kesolidan timnya. Dari tiga nomor yang dipertandingkan, yaitu kategori putra, kategori putri dan kategori mix atau campuran. Tim Hoki UNJ berhasil menyabet Juara I dan Juara III di kategori putra, sementara itu di kategori putri dan kategori mix mereka bertengger di posisi runner up. Dengan demikian total medali yang mereka peroleh adalah satu emas, dua perak, dan satu perunggu. Sementara itu. Di kategori putri, UPI Bandung berhasil merebut posisi Juara I dan posisi ketiga diduduki tim dari UNPAD. STEI Jakarta meraih Juara I di kategori mix, Sedangkan posisi ketiga berhasil diraih tim dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Pertandingan final tim putra UNJ melawan UPI Bandung tersebut mengakhiri event kejuaraan Hoki antarmahasiswa berskala nasional yang telah berlangsung selama satu minggu, yaitu sejak hari Kamis s.d. Rabu tanggal 03 s.d. 10 Mei 2007. Bertempat di Gedung Serba Guna kampus B Universitas Negeri Jakarta. Kejurnas Hoki ini diikuti oleh 20 tim dari 19 Universitas seluruh Indonesia, antara lain; UI, ITB, USRI, UPN, UKI dll. Dalam hal ini UNJ sebagai tuan rumah diperbolehkan mengirimkan 2 tim yaitu tim UNJ A dan tim UNJ B.
Kejuaraan ini diselenggarakan oleh panitia yang berasal dari mahasiswa-mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNJ, dan sebenarnya telah lama diadakan. Namun UNJ baru dua kali ini menjadi tuan rumah. Tahun lalu di tempat yang sama, UNJ gagal memperoleh kemenangan dan hanya memperoleh juara II di kategori putra. Sementara posisi Juara Umum disabet Universitas Jayabaya. Kejuaraan tahun ini memperebutkan trophy, medali dan uang pembinaan sebesar 1 juta rupiah untuk Juara I, delapan ratus ribu rupiah untuk Juara II dan enam ratus ribu rupiah untuk Juara III.
Tujuan diselenggarakannya Kejurnas ini sendiri seperti yang dituturkan ketua panitianya, Dhani Hidayat, adalah untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia khususnya cabang olahraga Hoki dan dapat menyambung tali silaturrahmi antaruniversitas di seluruh Indonesia. Hal senada juga dituturkan oleh perwakilan dari Menpora, Drs. Bidawi Hasyim selaku Deputi IV Pemberdayaan Olahraga. Dalam sambutannya di acara pembukaan yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 03 Mei 2007, beliau mengatakan, “Kejuaraan ini diharapkan dapat mengolah fungsi olahraga menjadi fungsi pendidikan. Olahraga sebagai rekreasi yang menghasilkan prestasi.”
Ahmad Mansur, M.Sc. selaku staff ahli sumber pemberdayaan olahraga yang mewakili Menpora di acara penutupan mengatakan dalam sambutannya, bahwa Kejurnas Hoki ini sungguh usaha maksimal yang ditunjukkan oleh atlet-atlet dengan status mereka yang masih mahasiswa yang mempunyai tugas pokok belajar, tapi masih bisa meluangkan waktu di lapangan demi kejayaan olahraga nasional.
“Seperti kita tahu, prestasi olahraga kita sedang menurun. Di Sea Games, Asean Games dll. Namun jangan terlalu lama merenungi kenyataan tersebut. Bangkit untuk mengejar ketertinggalan! Melalui pengembangan IPTEK olahraga seperti yang dilakukan negara-negara tetangga, mudah-mudahan akan muncul atlet-atlet berprestasi khususnya atlet Hoki yang dapat mewakili Indonesia di event yang lebih tinggi” ujarnya lagi.
Minim dana
Namun dibalilk gegap gempita kemenangan itu, terdapat sebuah ganjalan. Untuk mengadakan kejurnas Hoki ini, panitia harus pontang-panting mencari dana. Sementara kucuran dana dari kampus UNJ sendiri dirasa sangat sedikit. Hatman Nugraha, salah satu dosen FIK menuturkan, “Anggaran UNJ untuk bidang olahraga memang sangat minim. Yang kita terima dari UNJ paling banyak 5 juta, padahal dana yang telah kita keluarkan sekitar 40 juta. Kekurangannya kita dapatkan dari sponsor, yaitu Myzone, Simpati, dan Telkomsel. Ditambah dana pendaftaran dari peserta.”
Bahkan menurut Nana, panitia sekaligus merangkap sebagai peserta. Untuk menutup kekurangan dana, panitia juga diminta menyumbangkan uang sekedarnya, “Panitia dan atlet UNJ sendiri ikut memberi sumbangan, besarnya berkisar antara 10 sampai 50 ribu. Ditambah sumbangan sekedarnya dari para alumni.” Tutur mahasiswa Teknik Official itu.
Mungkin karena itulah, fasilitas yang bisa diberikan kepada para atlet pun kurang memadai. Para peserta dari luar Jakarta kebanyakan mengontrak rumah sendiri karena panitia tidak menyediakan penginapan, tapi ada juga yang ditempatkan di mes atlet. Tim dari Universitas Gadjah Mada misalnya, selama kejuaraan mereka bertahan di Cakung. Sedangkan tim dari Universitas Padjdjaran menempati rumah salah satu atlet Hoki dari tim mereka yang tinggal di daerah Rawamangun.
Sementara itu, biaya hidup para atlet selama masa kejuaraan berasal dari uang pendaftaran mereka. Setiap Universitas membayar sebesar enam ratus ribu rupiah. Panitia hanya menyediakan bus untuk antar jemput. “Karena hasil usaha kami, maka bus UNJ gratis walaupun jumlahnya cuma dua. Kami juga harus bayar sopir dan bensin, “ ungkap Ade Nur Iman, salah seorang panitia. Ade juga mengungkapkan bahwa untuk menyelenggarakan event ini, panitia juga masih harus membayar uang gedung dan dana yang diberikan sedikit. “Padahal acara ini juga untuk mempromosikan kampus.” Sesalnya.
Meski minim dana dan minim fasilitas, bukan berarti Kejurnas ini tak layak mendapatkan apresiasi. Ardhi, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang juga salah satu wasit dari Komisi Wasit Hoki Indonesia mengungkapkan, “ Yaa… saya salut dengan UNJ yang sudah menyelenggarakan Kejurnas Hoki ini meski saya sempat dengar ada kendala finansial dan dananya mencari sendiri. Acaranya meriah, semua atlet punya skill yang bagus dan mereka bermain dengan sportif.” Begitupun dengan Ane, atlet dari tim Hoki putri UNPAD, ia juga mengungkapkan bahwa Kejurnas tahun ini berlangsung meriah dan menyenangkan. Cuma yang perlu diperbaiki adalah masalah fasilitas.
Keberhasilan tim UNJ meraih Juara Umum dalam Kejurnas tahun ini seolah mengobati semua itu. Kekecewaan karena kontribusi kampus yang dinilai kecil dan keletihan selama masa latihan selama sebulan sebelum kejuaraan dan selama pertandingan seolah terbayar sudah. Tak peduli seberapa besar atau kecil dana yang tersedia, sepertinya tidak menyurutkan langkah mereka untuk kembali menyelenggarakan Kejuaraan ini di tahun mendatang. “Mereka (panitia-red) tidak dibayar, mereka melakukan karena rasa mencintai Hoki dan almamater. Kalo hanya untuk nilai percuma. Semua mau turun demi olahraga. Mereka mencintai olahraga!” tegas Hernawan, dosen Metlit sekaligus pelatih tim Hoki UNJ.
Wajah-wajah berseri dan tersenyum lebar dengan mudah dijumpai saat upacara penutupan selesai. Didiringi lagu We Are The Champion-nya Queen, satu-persatu atlet menerima ucapan selamat dan peluk cium dari rekannya sesama atlet, pelatih, dan dosen. Medali-medali menggantung dengan bangga di leher mereka. Kemenangan memang bukan hal yang utama, yang terpenting adalah semangat bertanding dan mental juara. Mungkin ada baiknya mengutip kata-kata bijak; Yang paling berat adalah melawan diri sendiri. Kalau sudah bisa melawan diri sendiri, pasti bisa!
- uaaa... ni tulisanku yang pertama kali nongol di koran; Rubrik Rostrum, Media Indonesia, lupa tanggal berapa, pokoknya pertengahan 2007. lumayan... honorariumnya langganan MI 3 bulan. yach... meski tulisanku jadi dikiii...t bgt! kebanyakan diedit,hehe... :-)