12 Januari 2008

Ngobrol sama Bakul Kopi

1 new sms

Bakul Kopi

Tret teT teet

Hepii nEw yEarrr

mg dthn ne, tmnq+b’tqwa

ma Yg Diataz,

+pth ma Ortu, +baek(trtm mQ,he),

bz Ngdptn yG d’inGinKn,

GodbLessU

SUGENG

WARSA

ENGGAL 1429 H

09/01/08

19:18:34

----------------------------------------------

Ana

Deuu.. yg dah buruan mo nikah!

Piye kbre?

Suer,aq salut ma kberanianmu ma tuha

Congrat’s.

Sugeng warsa enggal,

Rahmat lan pituduhe Allah mugi tetep

Ing atase panjenengan

Message delivered to Bakul Kopi

---------------------------------------------

1 new sms

Bakul Kopi

Apik,pn sndr gmn?

Aq ma tuha g mau brmaksiat trus

Jd enkn nkh,he5x

hbs nkh br pacaran..

09/01/08

20:31:56

---------------------------------------------

Ana

Aq apik2 ae,alhamdulillah.

O,mo pacaran biz nikah?

Hei,bukane awakmu wes pacaran

kawit biyen?trz kpn neh akad’e?

Message delivered to Bakul Kopi

--------------------------------------------

1 new sms

Bakul Kopi

Iya ditrusin hbs nkh,he5x

Insyaallh bln 3,pi harine blm tau...

Doain nggeh..

09/01/08

20:40:55

----------------------------------------------

Ana

I’ll always wish the best

for you both.

Oia,nikah bkn hny legalisasi

pacaran pren,proyek dunia akhirat

jg.. mg berkah ja de y?^_^

Message delivered to Bakul Kopi

-------------------------------------------

1 new sms

Bakul Kopi

Amin...

Q jg sdr hbs nkh pst bnyk

badai...

Q cm berbekal

Bismillah..

09/01/08

21:06:17

-----------------------------------------------

Ana

Eits,bismillah,ma’isyah,masuuliyyah..!

Message delivered to Bakul Kopi

----------------------------------------------

1new sms

Bakul Kopi

Ok...he5x

09/01/08

21:15:41

----------------------------------------------

1 new sms

Bakul Kopi

Eh masuuliyyah tu apa?he5x

09/01/08

21:16:31

---------------------------------------------

Ana

Tanggung jawab neeh... ;-)

Message delivered to Bakul Kopi

---------------------------------------

1 new sms

Bakul Kopi

Oo..

09/01/08

Celebrating New Year


Hari ke-365 di tahun 2007

Hape-q terus saja ngak-ngik-nguk; ada sms undangan bakaran ayam, ajakan keluyuran ke monas, undangan mabit bareng, ucapan selamat, do’a...

Ough... Matursuwun sanget, kubilang.

Tapi, aku ingin melewatkan pergantian tahun ini di kost saja.

Berdua dengan Mb’ Titin, melototin tipi, tak-tik-tuk depan komputer, nyuci baju, nyapu, sedikit baca buku, seperti hari liburku yang sebelum-sebelumnya.

Aku nggak begitu tahu apa yang harus kurayakan hari ini.

Hari ini bukan ultahku.

Bukan juga hari terakhir ujian semester.

Tidak juga hari mudik.

Di detik jam 12 malam,

Dari jendela kamar kost, kunikmati langit Rawamangun yang jadi penuh bunga.

Dor... der... jedduarr!

Kembang api berpijar tak henti didiringi bising terompet.

Indah sekali!

Detik ini,

Tahun berganti.

Mungkin kebanyakan orang menjadikan detik ini sebagai tonggak resolusinya, menyenandungkan harap dan do’a.

Tapi jujur, nggak ada something esential yang bisa kudapatkan di detik ini selain kekaguman pada pijar-pijar kembang api.

Bagiku, nggak harus nunggu tahun baru untuk beresolusi.

Toh tiap hari juga bisa.

Jika malam ini semua orang merayakan tahun baru, bukan berarti aku wajib ikut merayakannya kan?

Apalah artinya tahun baru jika mentalitas tetap yang dulu...

31 Desember 2007

RESENSI BUKU: Kritik Sejarah Lewat Potret Seorang Ronggeng

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, bahkan manusia paling bejat sekalipun dapat terlahir kembali seperti bayi jika ia telah bertobat, demikian dogma agama. Tetapi tidak bagi mereka yang pernah terlibat G30S PKI. Stigmatisasi yang sistematis oleh rezim Orde baru selama tiga dekade telah menyebabkan derita berkepanjangan bagi kaum eks komunis, orang-orang yang dianggap kiri, termasuk istri, anak dan cucu mereka. Tak peduli apakah mereka mengerti arti istilah komunis itu sendiri atau tidak.

Penangkapan, pembantaian, penahanan tanpa batas waktu, pengucilan dan sebagainya adalah sebagian bentuk dari perlakuan diskriminatif yang mereka peroleh selama bertahun-tahun. Tidak bisa dipungkiri bahwa stigma buruk dan diskriminasi itu telah memberi dampak bagi psikologi dan kehidupan mereka.

Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel yang kaya. Ramuan dari unsur sosial, politik, psikologi dan budaya, lengkap dengan bumbu konflik kejiwaan para tokoh yang beragam, hilangnya sebuah tradisi, terdesaknya kehidupan desa serta romantika percintaan. Semua itu menyatu dalam jalinan cerita yang apik dan membius.

Bercerita tentang kemunculan Srintil sebagai seorang ronggeng di Dukuh Paruk yang sudah lama hilang. Dalam kepercayaan masyarakat Dukuh Paruk, seorang ronggeng sejati bukan hasil dari pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang perawan tidak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah merasuki tubuhnya. Sejak itu Dukuh Paruk kembali hidup Bagi pedukuhan yang kecil, miskin dan terpencil itu, ronggeng merupakan perlambang. Tanpanya, dukuh itu seperti kehilangan jati diri.

Atmosfer politik menjelang tahun 1965 merubah sendi-sendi kehidupan Dukuh Paruk. Pedukuhan yang selama ini hanya mengenal suara calung dan tembang ronggeng itu mulai disusupi paham-paham dan dihiasi lambang-lambang partai. Awalnya karena rombongan ronggeng pedukuhan itu sering diundang naik pentas di tengah rapat umum dan kampanye politik oleh kelompok partai komunis. Srintil dijadikan umpan penarik massa dalam rapat-rapat propaganda itu meski ia sendiri tidak tahu apa tujuan dari semua itu.

Peristiwa G30S PKI meletus dan keadaan berbalik, PKI gagal merebut kekuasaan. Orang Dukuh Paruk pun dituding sebagai antek komunis karena seringnya mereka meramaikan kampanye politik partai itu. Dukuh Paruk kemudian hancur bersama kobaran api, pedukuhan itu menjadi tumbal kemarahan warga terhadap PKI.

Srintil pun dibui selama 2 tahun. Sekembalinya dari tahanan, Srintil mulai menata kehidupannya kembali. Ia tidak mau lagi menjadi perempuan milik semua lelaki, ia ingin menjadi wanita somahan, menjadi istri dari seorang lelaki. Namun Bajus, lelaki yang ia harapkan menjadi suaminya, ternyata tega menghempaskan akal kemanusiaannya dengan cara mengungkit-ungkit masa lalunya sebagai eks tahanan politik. Karena beban batinnya, Srintil kemudian menjadi hilang ingatan.

Krtitik terhadap keberpihakan sejarah. Tema itulah yang ingin diangkat Ahmad Tohari dalam novel ini. Bagaimana tudingan sebagai oknum yang bersangkut-paut dengan peristiwa geger 1965 telah menjadi kenistaan sepanjang hayat bagi para pelakunya dan membekas menjadi trauma dalam kehidupan mereka.

Bisa dibilang, Ahmad Tohari ingin mempertanyakan mengapa orang-orang komunis demi anu enak saja menghapus hak hidup ‘orang biasa’ dengan cara paling hewani dan mengapa ‘orang biasa’ demi anu melenyapkan orang komunis dengan cara yang sama (hal. 260). Jawabannya mungkin adalah ishlah nasional (meminjam istilahnya NU) yang berisi tuntutan untuk merehabilitasi nama dan memulihkan hak dan martabat orang-orang yang dicap PKI serta kesediaan menerima mereka untuk hidup berdampingan dengan kita. Namun hal itu mustahil terwujud jika kita tidak mau merevisi pikiran kita dalam hubungannya dengan sejarah.



Identitas novel :

Judul : Ronggeng Dukuh Paruk (Trilogi)

Penulis : Ahmad Thohari

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2003, Februari

Tebal : 397 halaman



- Aq su...ka... bwanget ni novel. cuma punya satu komen; KEREN!


LIPUTAN: UNJ JUARAI KEJURNAS HOKI


Semua mata tertuju pada bola kuning kecil seukuran bola tenis itu, dengan penuh debar menantikan moment selanjutnya. Wajah-wajah pemain terlihat penuh siaga. Dan tak lama kemudian beberapa stik saling beradu, sekian detik kemudian... GOAL!

Sorak-sorai penonton supporter tim Hoki UNJ terdengar bergemuruh menyambut kemenangan itu. Para pemain berpelukan dengan mata berkaca-kaca. Kemenangan tim putra di partai final yang terakhir tersebut telah mengukuhkan posisi tim UNJ sebagai juara umum dalam Kejurnas Hoki tahun ini.

Bermain di kandang sendiri, UNJ benar-benar telah membuktikan skill dan kesolidan timnya. Dari tiga nomor yang dipertandingkan, yaitu kategori putra, kategori putri dan kategori mix atau campuran. Tim Hoki UNJ berhasil menyabet Juara I dan Juara III di kategori putra, sementara itu di kategori putri dan kategori mix mereka bertengger di posisi runner up. Dengan demikian total medali yang mereka peroleh adalah satu emas, dua perak, dan satu perunggu. Sementara itu. Di kategori putri, UPI Bandung berhasil merebut posisi Juara I dan posisi ketiga diduduki tim dari UNPAD. STEI Jakarta meraih Juara I di kategori mix, Sedangkan posisi ketiga berhasil diraih tim dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Pertandingan final tim putra UNJ melawan UPI Bandung tersebut mengakhiri event kejuaraan Hoki antarmahasiswa berskala nasional yang telah berlangsung selama satu minggu, yaitu sejak hari Kamis s.d. Rabu tanggal 03 s.d. 10 Mei 2007. Bertempat di Gedung Serba Guna kampus B Universitas Negeri Jakarta. Kejurnas Hoki ini diikuti oleh 20 tim dari 19 Universitas seluruh Indonesia, antara lain; UI, ITB, USRI, UPN, UKI dll. Dalam hal ini UNJ sebagai tuan rumah diperbolehkan mengirimkan 2 tim yaitu tim UNJ A dan tim UNJ B.

Kejuaraan ini diselenggarakan oleh panitia yang berasal dari mahasiswa-mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNJ, dan sebenarnya telah lama diadakan. Namun UNJ baru dua kali ini menjadi tuan rumah. Tahun lalu di tempat yang sama, UNJ gagal memperoleh kemenangan dan hanya memperoleh juara II di kategori putra. Sementara posisi Juara Umum disabet Universitas Jayabaya. Kejuaraan tahun ini memperebutkan trophy, medali dan uang pembinaan sebesar 1 juta rupiah untuk Juara I, delapan ratus ribu rupiah untuk Juara II dan enam ratus ribu rupiah untuk Juara III.

Tujuan diselenggarakannya Kejurnas ini sendiri seperti yang dituturkan ketua panitianya, Dhani Hidayat, adalah untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia khususnya cabang olahraga Hoki dan dapat menyambung tali silaturrahmi antaruniversitas di seluruh Indonesia. Hal senada juga dituturkan oleh perwakilan dari Menpora, Drs. Bidawi Hasyim selaku Deputi IV Pemberdayaan Olahraga. Dalam sambutannya di acara pembukaan yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 03 Mei 2007, beliau mengatakan, “Kejuaraan ini diharapkan dapat mengolah fungsi olahraga menjadi fungsi pendidikan. Olahraga sebagai rekreasi yang menghasilkan prestasi.”

Ahmad Mansur, M.Sc. selaku staff ahli sumber pemberdayaan olahraga yang mewakili Menpora di acara penutupan mengatakan dalam sambutannya, bahwa Kejurnas Hoki ini sungguh usaha maksimal yang ditunjukkan oleh atlet-atlet dengan status mereka yang masih mahasiswa yang mempunyai tugas pokok belajar, tapi masih bisa meluangkan waktu di lapangan demi kejayaan olahraga nasional.

“Seperti kita tahu, prestasi olahraga kita sedang menurun. Di Sea Games, Asean Games dll. Namun jangan terlalu lama merenungi kenyataan tersebut. Bangkit untuk mengejar ketertinggalan! Melalui pengembangan IPTEK olahraga seperti yang dilakukan negara-negara tetangga, mudah-mudahan akan muncul atlet-atlet berprestasi khususnya atlet Hoki yang dapat mewakili Indonesia di event yang lebih tinggi” ujarnya lagi.

Minim dana

Namun dibalilk gegap gempita kemenangan itu, terdapat sebuah ganjalan. Untuk mengadakan kejurnas Hoki ini, panitia harus pontang-panting mencari dana. Sementara kucuran dana dari kampus UNJ sendiri dirasa sangat sedikit. Hatman Nugraha, salah satu dosen FIK menuturkan, “Anggaran UNJ untuk bidang olahraga memang sangat minim. Yang kita terima dari UNJ paling banyak 5 juta, padahal dana yang telah kita keluarkan sekitar 40 juta. Kekurangannya kita dapatkan dari sponsor, yaitu Myzone, Simpati, dan Telkomsel. Ditambah dana pendaftaran dari peserta.”

Bahkan menurut Nana, panitia sekaligus merangkap sebagai peserta. Untuk menutup kekurangan dana, panitia juga diminta menyumbangkan uang sekedarnya, “Panitia dan atlet UNJ sendiri ikut memberi sumbangan, besarnya berkisar antara 10 sampai 50 ribu. Ditambah sumbangan sekedarnya dari para alumni.” Tutur mahasiswa Teknik Official itu.

Mungkin karena itulah, fasilitas yang bisa diberikan kepada para atlet pun kurang memadai. Para peserta dari luar Jakarta kebanyakan mengontrak rumah sendiri karena panitia tidak menyediakan penginapan, tapi ada juga yang ditempatkan di mes atlet. Tim dari Universitas Gadjah Mada misalnya, selama kejuaraan mereka bertahan di Cakung. Sedangkan tim dari Universitas Padjdjaran menempati rumah salah satu atlet Hoki dari tim mereka yang tinggal di daerah Rawamangun.

Sementara itu, biaya hidup para atlet selama masa kejuaraan berasal dari uang pendaftaran mereka. Setiap Universitas membayar sebesar enam ratus ribu rupiah. Panitia hanya menyediakan bus untuk antar jemput. “Karena hasil usaha kami, maka bus UNJ gratis walaupun jumlahnya cuma dua. Kami juga harus bayar sopir dan bensin, “ ungkap Ade Nur Iman, salah seorang panitia. Ade juga mengungkapkan bahwa untuk menyelenggarakan event ini, panitia juga masih harus membayar uang gedung dan dana yang diberikan sedikit. “Padahal acara ini juga untuk mempromosikan kampus.” Sesalnya.

Meski minim dana dan minim fasilitas, bukan berarti Kejurnas ini tak layak mendapatkan apresiasi. Ardhi, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang juga salah satu wasit dari Komisi Wasit Hoki Indonesia mengungkapkan, “ Yaa… saya salut dengan UNJ yang sudah menyelenggarakan Kejurnas Hoki ini meski saya sempat dengar ada kendala finansial dan dananya mencari sendiri. Acaranya meriah, semua atlet punya skill yang bagus dan mereka bermain dengan sportif.” Begitupun dengan Ane, atlet dari tim Hoki putri UNPAD, ia juga mengungkapkan bahwa Kejurnas tahun ini berlangsung meriah dan menyenangkan. Cuma yang perlu diperbaiki adalah masalah fasilitas.

Keberhasilan tim UNJ meraih Juara Umum dalam Kejurnas tahun ini seolah mengobati semua itu. Kekecewaan karena kontribusi kampus yang dinilai kecil dan keletihan selama masa latihan selama sebulan sebelum kejuaraan dan selama pertandingan seolah terbayar sudah. Tak peduli seberapa besar atau kecil dana yang tersedia, sepertinya tidak menyurutkan langkah mereka untuk kembali menyelenggarakan Kejuaraan ini di tahun mendatang. “Mereka (panitia-red) tidak dibayar, mereka melakukan karena rasa mencintai Hoki dan almamater. Kalo hanya untuk nilai percuma. Semua mau turun demi olahraga. Mereka mencintai olahraga!” tegas Hernawan, dosen Metlit sekaligus pelatih tim Hoki UNJ.

Wajah-wajah berseri dan tersenyum lebar dengan mudah dijumpai saat upacara penutupan selesai. Didiringi lagu We Are The Champion-nya Queen, satu-persatu atlet menerima ucapan selamat dan peluk cium dari rekannya sesama atlet, pelatih, dan dosen. Medali-medali menggantung dengan bangga di leher mereka. Kemenangan memang bukan hal yang utama, yang terpenting adalah semangat bertanding dan mental juara. Mungkin ada baiknya mengutip kata-kata bijak; Yang paling berat adalah melawan diri sendiri. Kalau sudah bisa melawan diri sendiri, pasti bisa!

- uaaa... ni tulisanku yang pertama kali nongol di koran; Rubrik Rostrum, Media Indonesia, lupa tanggal berapa, pokoknya pertengahan 2007. lumayan... honorariumnya langganan MI 3 bulan. yach... meski tulisanku jadi dikiii...t bgt! kebanyakan diedit,hehe... :-)

RESENSI BUKU: Da Vinci dari Betawi

Konflik beda generasi. Tema itulah yang diangkat penulis dalam buku ini. Bercerita tentang Rosid, remaja Betawi keturunan Arab yang berayahkan Mansur pria yang sangat konservatif dan teguh memegang ajaran-ajaran para leluhurnya.

Konflik bermula ketika Rosid ngotot mempertahankan rambut kribonya tapi sang ayah tidak menyetujui dan menentangnya karena dengan rambut kribo yang mengembang itu Rosid tidak akan bisa memakai peci yang selama ini ia anggap sebagai bagian dari ajaran agama yang secara turun-temurun telah diwariskan oleh para leluhurnya dan tidak boleh diganggu gugat.

Hal itu membuat Rosid berusaha menyadarkan ayahnya bahwa tradisi berpeci itu hanyalah salah-satu budaya yang tidak ada kaitannya dengan agama. Sang ayah pun tak kalah gencarnya berusaha “menginsyafkan” Rosid dengan berbagai cara. Hubungan ayah dan anak diungkapkan dengan cukup unik dalam novel ini. Kita akan mengetahui bahwa dibalik pembangkangan Rosid dan sikap tak mau kompromi ayahnya ternyata terdapat suatu jembatan yaitu kasih sayang.

Melalui novel ini, penulis seolah mengajak pembaca menjelajahi kota Jakarta, menyusuri tiap jengkal jalan-jalannya dan ikut merasakan suasana ibukota. Buku ini sangat menghibur pembacanya karena dituturkan dengan bahasa yang asyik, mengalir, dan sederhana. Kita akan menemukan sentilan-sentilan lucu yang akan mampu membuat kita tersenyum seperti yang terdapat di halaman 9 dan di halaman 247.

Meski tergolong buku yang lebih menonjolkan sisi entertainmentnya bukan berarti buku ini tak bebrbobot. Dengan mengusung misi toleransi beragama dan antar agama, pembaca dituntut untuk kritis mencerna dan meyikapi ide yang ditawarkan oleh penulis.

Satu yang kurang dari buku ini adalah penggarapan karakter yang kurang matang dan minim detail. Misalnya tokoh Rosid yang digambarkan sebagai pemuda yang kritis dan romantis dalam novel ini hanya dipaparkan sekilas dan datar.

Terakhir. Jika menginginkan bacaan yang menghibur sekaligus bertema berat untuk mengisi waktu luang, maka bacalah buku ini. Paling tidak kita tak perlu mengernyitkan dahi ketika membacanya seperti ketika membaca The Da Vinci Code-nya Dan Brown.

IDENTITAS BUKU

Judul buku : The Da Peci Code

Penulis : Ben Sohib

Penerbit : RAHAT books

Cetakan : Pertama, September 2006

Kedua, Oktober 2006

Halaman : 326 halaman ; 17 cm

-Alhamdulillah, aq dapet novel keren; royalti resensi ini.
-tenkz bwt Widhi Maulana Desangga tuk pinjeman The Da Peci Code, naro resensi ni di BEaST News n novel Bumi Hangus-nya.

28 Desember 2007

Robbiy,,,

Aku
Tidaklah semulia Khadijah
Tidaklah setaqwa Aisyah
Tidaklah setegar Masyithah
Pun tidak setabah Fatimah
Apalagi secantik Zulaikhah.
Aku
Hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita
Menjadi sholehah.

Sehari sebelum balik ke Jakarta, Senin 24 Desember 2007

Dia obsesiku!
Seorang cowo yang memiliki dua point penting untuk dinikahi; nasab dan rupa
Tak kusangka ia membetot pikiranku beneran padahal awalnya cuma iseng. Hehe... ia kujadikan alasan, lebih tepatnya, alibi dari seseorang yang namanya pamali kalau disebut, dari cewe jilbab melilit, dari sahabat yang terkadang jadi benalu, kemudian dari sorotan kamera paparazi -ciee..- dan tentu saja untuk menghindar dari hukum adat tak tertulis.
He loves me... he loves me not...?

He loves me. Pasti!
Aku kan baek, suka menolong, suka tidur, suka ngupil, suka kopi, suka bubur ayam, suka brownies, suka semua makanan.
Aku kan pinter, pinter ngibul, pinter ngegombal, pinter ngeles.
Aku kan cantik, tapi setelah semua orang cantik di dunia ini dikumpulin dan dibantai masal.
Nah, palagi coba?
Baek,
Pinter,
Cantik.

He loves me not. Ya iyalah...
Sapa gw?
Aku mau menggal kepala, ngetok-ngetok batoknya kemudian ngorek-ngorek isi otaknya.
Mungkin dengan begitu aku baru bisa nyadar bahwa ‘betapa tak ada secuilpun dari diriku yang bisa membuatnya kejang-kejang’ (kalo nggak ada secuil, masak sih ngga ada sepotong ja –niy, aku mulai ngeles. Aku dah bilang kan kalo aku pinter ngeles?-)

Lihat, awan pun bersinar
Daun-daun jatuh berguguran
Namun cintamu kasih terbit laksana bintang
Yang bersinar cerah menerangi jiwaku.
Andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan kuberikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya, selamanya, selamanya...
“Woi nyadar, malah nyanyi mendayu-dayu!” (dalam skenarionya, aku mengatakan kalimat ini sambil mengetok-ngetok kepalaku dengan ujung telunjuk jari kanan. Tuk... tuk...tuk...)

Epilognya singkat saja.
Aku sudah berusia lanjut. Jika memang secara tidak sengaja ataupun sengaja menyukai seseorang maka aku harus siap dengan konsekuensi yang harus kutanggung. Realistis saja! Yang dibutuhkan di zaman globalisasi sekarang ini dimana kapitalisme, neoliberalisme, dan egosentrisme semakin bercokol (lho, kok ngelantur?) adalah seseorang yang mempunyai grand desain dalam hidupnya, tahu piramida hidupnya dan melakukan setapak demi setapak usaha untuk meraih puncak piramidanya. Bukan hanya seseorang yang sekadar cakep seperti anak jurusan Seni Rupa yang kujuluki Yusuf karena saking terpesona saat melihatnya aku nggak nyadar kalo diklakson mobil berkali-kali. Bukan seseorang yang sekadar pinter maen gitar, pinter ngorat-ngoret pensilnya membentuk sketsa salah satu tokoh komik favoritku, pinter membuat penonton terpukau melihat gayanya memasukkan bola ke ring basket, pinter membuat senyumku melebar dengan sms-sms lucu. Pun bukan seseorang yang kebetulan aku menyukainya saat ini.
Jadi,
Kalo suka... suka aja!
Kalo nggak suka... ya, i wont do anything!
Toh, aku sudah terbiasa menyukai kemudian patah hati.

Liburan Ied Adha, sekian Desember 2007

Didaktika,
Setengah tahun lebih kubersenggama denganmu.
Kadang sumringah kadang ngilu.
Aku tidak dipaksa ketika menikahimu
Pun tidak karena kawin kontrak.
Tapi sebab kucinta...
Hingga hari ini, Jika kuajukan talak cerai
Maka jangan mencemoohku.
Keluarga kita berantakan; broken home
Kemesraan itu sekarang terasa semu; kau lebih sering mengecup ubun-ubunku sekilas
Dan rumah kita, lihatlah!
Ruang keluarganya senyap tanpa canda, cela, bahkan marah.
Ah,
Mungkin aku hanya lelah mengasuh anak-anak yang lahir dari rahimmu.
Atau mungkin karena aku yang mandul
Organ-organ reproduksiku kering
Tak bisa membuahkan newsletter, inisiasi, atau kreasi.
Padahal semua itu adalah serbuk-serbuk benang sari
Dan kau putiknya.

Mudik, 15 Desember 2007

Liputan CSR; Sampoerna Foundation, Unilever, Antam, Roche, Indofood
Makalah; suku Asmat, langit makin mendung,
Tugas Bu Titi
Bahan pidato
Kaderisasi
Didaktika
Kibasan kenangan tentang afinitas
Senyum sinis si cewe jilbab melilit
Abak dan adek...
Uahh...!

Aku punya kotak kecil dalam otakku
Begitu kecilnya sampai-sampai ia ‘mecothot’ ke segala arah
Dan benda-benda yang kumasukkan ke dalamnya seolah berebutan mencari tempat,
Sesak nafas, gerah, lecet-lecet dan menunggu meledak
Duaarrr...!

Sekian detik sebelum kotak itu meledak kuputuskan mengeluarkan kotak itu dari kepalaku, mencerabutnya dari jalinan dendrit-dendrit, mencampakkannya dan meninggalkannya...
di Jakarta.

Aku pulang.

SAJAK PATAH HATI

Aku terperangkap
Seperti dalam jaring laba
Hanya diam pasrah
Menunggu untuk dimangsa

Jangan panggil aku bahagia,
Sebab tubuhku adalah cabikan luka
Jiwaku adalah kemarau tanpa basah
Otakku adalah labirin kecewa tak berujung.

Akhirnya aku remuk
Jadi butiran pasir
Laut menggerus karangku; abrasi.
Tanpa basa-basi ia menggarami lukaku yang nganga
Sekarang jadi nanah.

12 Desember 2007

Cinta Sekeping Receh

Sore hari ketika langit kota mendung berjelaga. Jalanan macet ditingkahi suara klakson bersahutan yang memekakkan telinga. Kau lantang berkata: I love you. Aku hanya tersenyum dan menatapmu tanpa kata. Lalu kau menarik jemariku paksa, menyibak kerumunan penghuni halte tanpa peduli tabrak sana tabrak sini. Orang-orang mengaduh kesakitan karena kaki mereka terinjak. Bocah kecil ingusan menangis meraung-raung, sambil mengucek-ucek matanya yang kesikut. Seorang nenek terjungkal ke tanah, “ Dasar nggak tahu sopan santun!” ia mengumpat kesal.
“Atas nama apa kau berbuat seperti tadi?” tanyaku tak mengerti.
“Atas nama cinta,” jawabmu sombong.
“Tidak, cinta tidak sekejam itu!” aku protes. Tapi kata-kata itu hanya kutelan saja, lidahku gagu. Mungkin karena di mataku kau jadi seperti mawar; berduri tapi tetap terlihat indah. Lalu kau menarik jemariku lagi, mencengkeram, menyeretku agar berjalan mengiringi langkahmu.
“Bisakah kau lepaskan genggamanmu?” pintaku, tanganku sakit.” Kau terhenyak, menepiskan genggamanmu kasar kemudian berjalan cepat tanpa menolehku yang tersaruk-tersaruk mengekor di belakangmu.
Di ujung trotoar, seorang gadis jelita menjatuhkan receh ke tangan pengemis tua, yang segera disambut si pengemis tua itu dengan senyum merekah dan terimakasih berbusa-busa. Seolah memberimu inspirasi, langkahmu terhenti kemudian menghadangku. Kautarik tanganku dan kaugenggamkan sekeping receh lalu kau berlalu. Begitu saja, tanpa kata-kata. Aku termanggu, memandang keping itu. Bertanya; kenapa kau beri aku receh, padahal yang kuminta adalah senyummu.

KTT Bali

SAVE OUR EARTH!
Kurangi emisi,
Hemat energi,
Ayo tanam pohon!

,;*”*;,
*;,#,;*
_)(_

STOP GLOBAL WARMING!

-sms ni aku kirimin ke hape temen2 di kampung-
-dan dibalas sama Aliful Faid-

SAVE OUR POWER!
Kurangi em0si,
Hemat energi,
Ayo makan 1000 pohon!

,;*”*;,
*;,#,;*
_)(_

STOP LAPER!

-hehe...-